About Me

deni wk
Jakarta, Garut, DKI Jakarta, West Java, Indonesia
deni wahyudi kurniawan, ketua umum PP IPM. cowok asal garut, sedang kuliah di fakultas dirasat islamiyah UIN Syahid Jakarta. Saat ini sedang memprioritaskan pengembangan diri dalam segala hal. ia bercita-cita menjadi seorang pemimpin yang berguna bagi masyarakat. MOTEKAR adalah kata bahasa sunda untuk kreatif, gigih dan banyak akal. sengaja dibuat untuk mereka yang selalu gelisah ingin berkarya, bermimpi, bekerja keras, berjuang dan bertahan menaklukkan hidup. -motekar is a sundanese word for creative, never give up and smart. made for those who challenging to work, dream, passion, struggle and survive-
View my complete profile

Thursday, April 30, 2009

About Me (again)

Iseng aja jawab yang ngetag...

Okay, here’s the rule : Use Google Image to search the answers to the questions below. Then you must choose a picture in the first page of results, and post it as your answer. After that tag 7 people.

-the age of next birthday-


yang muncul fotonya mbah theodore roosevelt, presiden amerika serikat yang ke-26 dan juga masih saudara sama presiden amerika yang ke-32. Franklin Roosevelt, mbah teddy ini adalah presiden termuda AS yaitu berumur 42 tahun dan menjabat dua kali masa jabatan. entah apa hubungannya dengan hari ultahku, paling nggak kalo mo GR mudah-mudahan aku bisa jadi pemimpin besar kayak mbah teddy ini hehehe...... amin



-place i'd like to travel-


air terjun Niagara di AS kayaknya asyik tuh



menara Eiffel juga menarik, gambar yang menginspirasi si ikal /lintang untuk mengejar cita-cita.... wow keliling dunia...

-favorite place(s)-



sawah....wah wah... mantap ijo, segar dan sehat, tenang

-favorite food(s)-



sambel goreng ati..... muantaaaab

-favorite thing(s)-



the thing i take everywhere, my second room... portable room...

-nickname i had-



weka, wk karena dulu ada dua deni di pondokku



Uden... panggilan kesayangan nenekku almarhum

-a favorite color-



blue ocean..... blu lah pokoknamah

-college major-


-hobby-



main bola sama futsal



berenang kalo sempet...

-a bad habit-



-my wish list-





punya stasiun TV



keluarga mawaddah sakinah wa rahmah

Selanjutnya aku tag ...... selamat "berrelaksasi" otak dan jari-jari! :P



Readmore »»

Pemilu 2009

Satu sesi pesta demokrasi Negara kita telah usai pada 9 April yang lalu. Pemilu legislative ketiga di era reformasi telah dilaksanakan dengan berbagai kekurangan. 40 persen warga Negara yang memiliki hak pilih tidak memberikan hak pilihnya (sekitar 60juta). 30 % diantara mereka tidak memilih bukan karena tidak mau memilih, namun karena tidak bisa memilih. Puluhan juta penduduk tidak bisa menemunkan nama mereka dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang ada dalam setiap TPS.


Hal ini sungguh disayangkan oleh berbagai pihak. Bahkan pengamat mengatakan bahwa pemilu kali ini adalah pemilu paling buruk setelah era reformasi. Karena substansi pemilu adalah mengakomodir kehendak rakyat dengan mempersilahkan mereka memilih orang yang akan mewakili dan memperjuangkan aspirasi mereka di parlemen dan memilih presiden dan wakil prresiden. Sementara sekarang sebagian dari mereka tidak bisa menunaikan hak mereka tidak melakukan itu karena masalah teknis.
Namun yang lebih penting dari itu adalah 30 % dari mereka (sekitar 20%) adalah pemilih pemula. Pemilih pemula adalah pemilih yang masih berusia 17 – 22 tahun atau mereka yang baru melakukan pemilihan umum pertama kalinya. Yang penting untuk dibicarakan adalah apa sebetulnya pelajaran politik yang didapatkan oleh para pemilih pemula ini dari pileg 2009, 9 April yang lalu?

Pragmatisme yang semakkin massif
Pemilu 2009 tidak memberikan politik yang baik bagi masayarakat. Partai politik sebagai organisasi politik yang seharusnya memberikan pendidikan politik kepada rakyat sama sekali tidak memberikan pencerahan kepada rakyat. Parpol membiarkan masyarakat terombang-ambing dalam kebingungan dalam pemilihan legislative yang lalu. Pemilih hanya diposisikan untuk sekedar memilih tanpa informasi yang cukup untuk membuat pilihan yang rasional.
Inipun terjadi pada pemilih pemula. Pemilih pemula yang terkenal dengan potensi kritisnya pun tidak memndapatkan hak politiknya untuk mengetahui informasi ini dengan baik. Memang sosialisasi yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu yang lalu memang jauh dari maksimal. Yang lebih parah adalah pemilih pemula disuguhkan dengan pertunjukan politik oligarkis yang begitu pragmatis.
Betapa tidak di tengah persaingan antar partai kontestan pemilu dan internal partai antar caleg pragmatisme politik mendapatkan tempatnya yang subur. Money Politics yang seharusnya menjadi musuh bersama bangsa setelah lebih dari sepuluh tahun reformasi ternyata semakin menjadi di pemilu ketiga di era reformasi ini. Berita tentang caleg yang marah setelah pileg karena perolehan suara yang minim adalah bukti nyata proses money politik itu. Kita banyak sekali mendengar caleg yang harus babak belur secara ekonomi untuk melakukan kampanye, bahkan dari berbagai media dinyatakan bahwa untuk melakukan kampanye maksimal minimal seorang caleg merogoh uang sakunya paling tidak 500juta rupiah. Dan itu adalah uang pribadi. Sungguh sangat miris mendengarnya. Coba kita bayangkan berapa local bangunan sekolah yang bisa dibangun dengan uang sgitu? Atau berapa judul buku yang bisa dibagi dengan uang 500juta? Dan bayangkan lagi jika uang sebesar itu dikeluarkan oleh para caleg yang saat ini berjumlah 1,5 juta orang? Buanyaaak sekali.
Belum lagi penomena serangan fajar dan uang saku memilihi yang terjadi di hari pencoblosan, perang amplop, jual beli suara di kecamatan atau di kabupaten. Betapa besar dan banyaknya uang yang dikeluarkan untuk hal ini.
Ini saya melihat terjadi karena lemahnya pendidikan politik di Negara kita. Cara pandang rakyat terhadap elit politik pun masih sangat pragmatis. Jika kita tanya rakyat kebanyakan maka paling tidak masih banyak diantara mereka yang menganggap para elit politik ataupun legislator sebagai mesin ATM. Sehingga apa yang harus dilakukan oleh legislator adalah memberikan bantuan finansial bagi konstituennya. Maka yakinlah jika fenomena caleg stress yang selama ini diberitakan di media tidak hanya akan terjadi pada mereka yang tidak terpilih menjadi anggota dewan yang ‘mudah-mudahan terhormat’ tapi juga mereka yang terpilih dan tidak siap menjadi wakil rakyat. Karena serta mereka setelah mereka duduk di kursi panas, ratusan bahkan mungkin ribuan proposal akan segera dating menghampiri meja untuk meminta bantuan.
Padahal tugas utama seorang legislator adalah merumuskan kebijakan dalam bentuk UU atau perda, melakukan penganggaran, dan mengontrol kinerja eksekutif. Inilah pemahaman yang tidak sampai kepada masyarakat. Inilah penomena yang dihadapi oleh para pemilih pemula di negeri kita. Entah berapa tahun lagi kita akan melihat masyarakat yang menghukum calon yang menggunakan dana kampanye pribadi. Seperti yang terjadi pada Hillary Clinton di Amerika (Pamor Hillary turun setelah ketahuan menggunakan uang pribadi untuk kampanye). Hmmm kayaknya masih lama hehehe

Pemilih Pemula Tidak menjadi Fokus Partai Politik
Jumlah pemilih pemula adalah 30% dari total pemilih yang ada di pemilu 2009. Ini tentu merupakan jumlah yang sangat besar dan menggiurkan dari segi angka. Namun parpol nampaknya belum menjadikan pemilih pemula sebagai target utama bagi kampanye mereka. Meskipun berbagai parpol mendirikan organisasi sayap khusus untuk pemilih pemula, namun perhatian parpol terhadap pendidikan politik mereka memang masih kurang. Ini sebetulnya peluang yang harus dimanfaatkan oleh elemen sipil society untuk membrikan pendidikan politik bagi rakyat sehingga pemilih memiliki bargaining position dihadapan caleg, parpol atau capres/cawapres.
Jika pemahaman politik masyarakat sudah meningkat, maka mereka akan menjadi pemilih yang lebih kritis dan memiliki sikap terhadap parpol. Seperti yang terjadi di Venezuela, pemahaman rakyat terhadap UU membuat mereka labih kritis dan hak dan kewajiban warga Negara. Bahwa voter (pemilih) kedudukannya lebih tinggi daripada siapapun yang dipilih.
Maka Pendidikan Politik/pendidikan KEwargaan/Civic Education juga menjadi sangat penting untuk rakyat kita terutama pemilih pemula.

Readmore »»

Thursday, April 9, 2009

Berkunjung Ke Negeri lee Kuan Yeuw



Selama lebih dari 8 hari aku menghabiskan waktu di Singapura. Aku sangat beruntung karena bisa mengikuti ASEAN+3 2nd Leadership Executive Program ASEAN+3 ang diselenggarakan oleh National Youth Council Singapura dari tanggal 29 Maret hingga 5 April yang lalu. Kegiatan ini diikuti oleh 34 pimpin pemuda dan pejabat yang membidangi pengembangan kepemudaan dari 10 negara ASEAN ditambah China (RRC), Jepang dan Korea. Ini adalah kesempatan yang sangat berharga karena selama lebih dari seminggu aku bisa berkumpul dan berinteraksi dengan pemuda dari negara lain dan belajar bagaimana Singapura bekerja sebagai sebuah negara.


Singapura adalah sebuah negara kecil di ujung selat malaka. Saking kecilnya Singapura dikatakan sebagai ”The Red Spot in the map” sebuah titik kecil di peta. Luasnya tidak lebih besar dibanding Jakarta Selatan. Dalam beberapa jam saja kita bisa mengelilingi Singapura.

Namun walaupun kecil, Singapura adalah salah satu negara yang sangat kompetitif. Singapura mampu menjadi negara yang maju di Asia Tenggara. Walaupun memiliki sumber daya alam yang terbatas, namun Singapura bisa memaksimalkan potensi Sumber Daya Manusianya. Salah satu sebabnya adalah semangat yang dikembangkan dan menjadi filosofi hidup warga Singapura yaitu kiasu, yang berarti takut kalah/tidak mau kalah/kompetitif. Filosofi ini menjadikan singapura sebagai sebuah komunitas menjadi negara yang kompetitif.

Dengan luas wilayah yang kecil dan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak sekitar 4 juta jiwa, secara ekonomi Singapura memang telah jauh meninggalkan tetangga-tetangganya di Asia Tenggara. UMR terendah di Singapura diperkirakan sekitar 1.000 $Sg (+ Rp. 7juta), jauh dibanding UMR di Indonesia yang di Jakarta saja masih Rp 900rb-1 juta.

Kelebihan lain adalah Singapura memiliki pengelolaan pemerintahan yang teratur dan visi bersama yang jelas. Pembangunan dan pengembangan negara didasarkan pada blue print nasional yang jelas. Singapura telah mengalami berbagai macam perubahan orientasi nasionalnya. Tahun 50-an mereka masih berfokus pada pada penyediaan buruh murah dan produksi barang secara masal. Seiring perubahan zaman mereka berubah menjadi penyalur buruh berpendidikan tinggi dan fokus pada pengembangan teknologi tinggi. Hingga kini Singapura lebih dikenal sebagai pasar keuangan global dan industri jasa.

Jadi, walau orientasi nasionalnya berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman, Namun satu yang pasti negara kecil ini selalu berusaha untuk membangun core competence agar bisa bersaing dengan segala keterbatasan.

Keuntungan yang lain tentunya penguasaan bahasa Inggris sangat memberi pengaruh terhadap kemajuan Singapura. Karena bahasa resmi yang dipakai adalah bahasa Inggris, maka warga Singapura tidak terlalu mengalami kesulitan untuk melakukan pergaulan internasional dengan negara lain yang memakai bahasa Inggris.

Kemajuan singapura tentunya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kepemimpinan perdana menterinya Le Kuan Yeuw. Dalam masa kepemimpinannya Lee telah melakukan perubahan yang sangat strategis sehingga menjadikan Singapura seperti sekarang ini.

Singapura adalah salah satu koloni Inggris. Jika kita perhatikan disana, asimilasi kebudayaan di Singapura yang penduduk aslinya adalah bangsa melayu sangat kentara. Diantara jalan besar yang berbau eropa atau memakai bahasa inggris seperti Raffles Road, Buona Vista dll, dibeberapa tempat kita bisa menemukan tempat yang sangat melayu sekali seperti tanah merah, Sengkang, kampong arab, sentosa dll.

Meskipun begitu dengan segala kelebihannya, pilihan yang dipilih oleh singapura tentu menyebabkan konsekuensi bagi bangsanya. Penggunaan bahasa inggris dan keinginan menjadi bagian dari pergaulan dunia internasional berpengaruh terhadap identitas kebangsaannya. Inilah tentunya sebuah konsekuensi karena warga Singapura adalah warga yang sangat multikultural.

Sebetulnya jika kita ingin bertamasya ke Singapura tidak terlalu sulit. Tiket Jakarta-Singapura pulang pergi tidak lebih dari 1 juta rupiah. Dan karena sama-sama negara ASEAN kita tidak perlu membayar visa untuk berkunjung ke Singapura, cukup bayar airport tax di bandara.

So, dengan segala kekurangan dan kelebihannya tentunya kita bisa mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah tetangga dekat kita Singapura. Terutama mengenai jiwa meritokratisme dan semangat kompetitifnya. Karena secara potensi sumber daya alam dan nilai serta budaya tentunya semua mengakui bahwa Indonesia sangat kaya dan sangat kuat. So, kalo kita mau, yakin kita pun bisa lebih maju. 5 tahun , 10 tahun kita yang harus menjawabnya.

Readmore »»

Tuesday, March 17, 2009

Menanti kreatifitas partai dalam melakukan kampanye

Hari ini kampanye terbuka pemilu 2009 resmi di mulai. Setiap hari di masing-masng provinsi empat partai akan berkampanye secara bergiliran hingga tanggal 5 April. Di Jakarta semua partai berikrar untuk melaksanakan kampanye ini dengan damai. Ikrar ini sangat penting karena kampanye terbuka yang dilakukan oleh partai tidak jarang mengakibatkan bentrokan fisik di kalangan pendukung partai di lapangan. Sehingga kampanye terbuka yang dilakukan oleh partai berpotensi menimbulkan kerusuhan.


Biasanya ketika melakukan kampanye terbuka partai melakukannya dengan melakukan pengerahan massa besar-besaran. Maka tidak heran jika saat musim kampanye tiba berbagai macam tempat umum dan lapangan kebanjiran order menjadi pusat kampanye berbagai partai yang melakukan kampanya terbuka. Bentuk kampanye biasanya dilakukan di lapangan terbuka, diselingi musik dan mungkin penyanyi dengan tarian yang rada hot. Bagaimana dengan pemilu kali ini? Akankah ada perubahan? Ataukah biasa-biasa saja?

Pengerahan masa besar-besaran dilakukan oleh patai untuk menunjukkan kekuatan massanya (show of force). Logikanya semakin banyak orang yang turun dan ikut berkampanye pada partainya berarti semakin banyak orang yang akan memilih partai tersebut. Benarkah seperti itu? Logika ini bias saja benar, tapi besar kemungkinan juga meleset. Karena dengan kondisi multipatrai seperti saat ini, ditambah tidak jelasnya ‘dagangan’ partai karena relative semua ideologinya sama, tentunya sangat sulit untuk menetapkan pemilih fanatic dari sebuah partai. Kini masyarakat lebih rasional dalam memilih karena lebih berpengalaman dan memiliki informasi yang lebih luas lagi. Masyarakat saat ini cenderung menjadi swing voter dan floating mass. Mereka yang turun mengikuti hangar binger kampanye sebuah partai belum tentu dia sudah mengirkaraka diri unruk memilih tersebut. Pilihan yang ia putuskan ketika di bilik suara bias jadi ia putuskan beberapa saat terakhir saat ia memasuki bilik suara.

Ditambah lagi kondisi masyarakat yang lagi ssusah seperti saat ini dimana semua sedang berada dalam keadaan sulit, bias jadi seseorang pergi melangkahkan kaki untuk pergi ke sebuah tempat kampanye terbuka hanya untuk menambah koleksi kaos partai atau mendapatkan transportasi puluhan ribu rupiah. Ya dari pada bingung bengong di rumah tanpa ada yang dikerjakan mendingan ikut main di kampanye partai lumayan dapat kaos gratis dan mungkin ongkos pulang.

Proses kampanye sejartinya dilakukan untuk menjelaskan program dan tujuan partai kepada pemilih sekaligus meyakinkan mereka untuk memilih di bilik suara. Namun jika dilihat pada pelaksanaan pemilu kita sbeelumnya, kampanye terbuka pada akhirny hanya menjadi ajang hiburan gratis bagi masyarakat. Sehingga dengan kondisi banyak sekali hiburan dalam kampanye sulit sekali bagi kita untuk memahami bahwa tujuan kampanye selama ini adalah untuk meykinkan pemilih untuk memilih partai tersebut. Kampanye di Indonesia biasanya seringkali dirasakan oleh masyawkaat sebagai jalan-jalan gratis, nonton konser gratis atau pawai aman memakai iriangan motor di pusat kota yang pada hari2 bisaa tidka bias dilakukan.

Maka dalam musim kampanye terbuka saat ini tantangan terbesar parpol adalah mewujudkan metode kam[amnye yang efektif dan mencerahkan tidak seperti selama ini yang mengerahkan massa dengan membabi buta namun kehilangan makna.


Readmore »»