About Me

deni wk
Jakarta, Garut, DKI Jakarta, West Java, Indonesia
deni wahyudi kurniawan, ketua umum PP IPM. cowok asal garut, sedang kuliah di fakultas dirasat islamiyah UIN Syahid Jakarta. Saat ini sedang memprioritaskan pengembangan diri dalam segala hal. ia bercita-cita menjadi seorang pemimpin yang berguna bagi masyarakat. MOTEKAR adalah kata bahasa sunda untuk kreatif, gigih dan banyak akal. sengaja dibuat untuk mereka yang selalu gelisah ingin berkarya, bermimpi, bekerja keras, berjuang dan bertahan menaklukkan hidup. -motekar is a sundanese word for creative, never give up and smart. made for those who challenging to work, dream, passion, struggle and survive-
View my complete profile

Monday, August 17, 2009

Merdeka

Bagi Kakekku yang pernah ikut perang kemerdekaan dan masa mempertahankan kemerdekaan, merdeka adalah oposite dari mati. Karena merdeka atau mati.Kalo ga mu merdeka ya mati saja. merdeka adalah kebebasan dan kesempatan. Bebas karena sekarang kita sudah bisa melakukan apapun tanpa takut sama kompeni atau bangsa kolonialis lainnya. Sekarang orang bisa pergi ke sekolah dan belajar dengan tenang. Dulu di usia belianya, hal itu adalah sebuah kemewahan. Sehingga dia selalu berpesan, isilah kemerdekaan ini dengan hal yang positif, karena kita punya kesempatan yang terbuka, yang generasi mereka tidak punya


Bagi Ibu dan Ayahku yang lahir antara tahun 50-60an, kemerdekaan bagi mereka adalah peluang untuk bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik. Meskipun sudah membanting tulang dengan sekeras tenaga, bagi generasi mereka terkadang tidak cukup untuk mencapai kesejahteraan. Sebagian berhasil yang lainnya masih kurang beruntung. Kemerdekaan adalah saat mereka tidak mau lagi mengikuti profesi orang tuanya menjadi petani, peladang, nelayan atau profesi lama lainnya. Kemerdekaan adalah punya uang cukup untuk jadi pegawai negeri dan hidup aman dengan jaminan upah negara. Kemerdekaan adalah mendengar pejabat di DPR sana yang dulu sering berkata "atas dasar petunjuk bapak".

Bagi aku dan generasiku, kemerdekaan adalah perlombaan rakyat yang selalu dilaksanakan setiap bulan agustus, sebulan, dua minggu atau tiga minggu, tergantung panitia dan dana. Kemerdekaan adalah panjat pinang di lapangan, gobak sodor, lomba makan krupuk dan tarik tambang. Paling tidak di waktu itulah masyarakat kumpul bareng dan berada dalam kebersamaan. Umbul-umbul muncul disana sini, bendera merah putih membentang disana sini dengan erbagai ukuran dan bentuknya masing-masing. Kemerdekaan adalah saat dimana kantor-kantor pemerintahan bersolek diri menghias dengan warna dominan merah dan putih, atau ketika gapura ditegakkan dimuka gang dan gerbang desa. Merdeka rasanya tidak lebih dari kemeriahan 17 agustusan. Rasanya yang terkenal 17 Agustusannya bukan peringatan kemerdekaan.

Bagi adik-adikku? entahlah, aku juga tidak yakin apakah mreka tahu untuk apa ikut balap karun, tarik tambang dan gobak sodor itu? sekedar beramai-ramai di tengah warga ataukah mencoba refresh dari kepenatan hidup sehari-hari. Memahami kemerdekaan rasanya tidak diajarkan di sekolah. Waktu di SD, SMP, SMA dlu apalagi dbangku kuliah rasanya tidak ada yang bertanya kenapa kita merayakan 17 Agustus? untuk apa dan apa semangat yang mesti diketahui dari semua ritual itu. Yang penting seru, ramai dan dapat hadiah kecil-kecilan. Tidak kurang dan tidak lebih.

Kemerdekaan adalah perpaduan antara kebebasan, kedaulatan dan independensi. Bebas melakukan sesuatu yang kita inginkan dengan bertanggung jawab dan tidak mengganggu hak orang lain. Berdaulat dalam segala bidang terutama dalam masalah ekonomi dan politik serta budaya. Dan independen. Kata terakhir mungkin bisa dipedebatkan karena kita tidak bisa seutuhnya bebas dari ketergantungan tapi harus ada kerjasama yang saling menguntungkan dan adil. Cita cita kemerdekaan dalam pembukaan UUD dengan tegas dan jelas menjelaskan bahwa tujuan kemerdekaan adalah melindungi segenap tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan mewujudkan ketertiban dunia.

Inila semestinya yang harus kita refresh dan reinstall dalam benak kita akan makna kemerdekaan dalam setiap peringatan 17 Agustus. Bahwa merdeka yang dulu kita proklamirkan 64 tahun yang lalu memiliki tujuan yang mesti dicapai dan diperjuangkan setiap saat. Semoga Pemimpin kita dan kita semua tidak memaknai kemedekaan seperti perlombaan-perlombaan yang ada di 17 agustusan. Tidak melakukan POLITIK PANJAT PINANG:Injak kepala orang untuk mencapai puncak kekuasaan. Tapi politik kenegaraan dan kebangsaan, politik untuk kesejahteraan seluruh tumpah darah Indonesia. Tiidak pake EKONOMI LOMBA KERUPUK: Tunduk merunduk di hadapan angin IMF dan hujan Bank dunia. Tapi Ekonomi kemndirian dan kemamkumarn untuk rakyat. Ekonomi yang membuat sebagian bangsa kita tersenyum bukan menangis dan meringis dihimpit kemiskinan. bukan BUDAYA BALAP KARUNG: Muka muncul dengan penuh hedonitas sok modern sementara kaki dan pikiran terbelunggu tradisi zaman mataram. Tapi Budaya Global dan Modern, peduli lingkungan, cinta damai, egaliter, plural dan mandiri. bukan SOSIAL LOMBA KELERENG: Asyik bisa beradu dan jagoan mengadu domba. api sosial dengan penuh keihlasan.

Sajadah masih panjang membentang, dan perjalanan kita asih jauh bahkan tak bertepi. bangkit dan berdiri untuk membela negeri sesuai dengan posisi dan kapasitas masing-masing yang kita miliki. Do the Best for your Country and Nation. Merdeka!!

Readmore »»

Tentang Kebahagiaan

Seseorang bilang kalo kebahagiaan itu katanya dibagi tiga tingkatan. Ada kebahagiaan fisik, emosional dan spiritual. Kemudian dia menjelaskan ketiga jenis itu dengan sangat sederhana. Kebahagiaan fisik katanya adalah saat kebutuhan secara fisik bisa terpenuhi dengan baik. Orang makan makanan yang enak bisa bikin kita bahagia secara fisik. Nikmat dan sehat. Atau misalnya saat badan ngilu, pegal, penat karena kerja yang melebihi kapasitas tubuh. Tentu ada rasa nikmat saat tukang pijat membuat kita relaks dan mengendorkan otot-otot tubuh. Dan kenikmatan-kenikmatan ragawi lainnya yang bisa diperoleh manusia karena memenuhi kebutuhan fisik (mungkin disini bisa juga masuk seks) bisa bikin kita bahagia.


Namun kebahagiaan ini tidak bertahan lama. Beberapa jam setelah lambung dan organ penecernaan memproses makanan kita, rasa nikmat yang tadi hilang kembali berganti lapar. Begitu juga badan rileks dan ringan setelah dipijat tentu akan kembali lelah seketika setelah kita beraktifitas kembali. Kebahagiaan fisik juga bisa sirna kalo misalnya kita KO sama penyakit. Dicuri kesehatannya oleh tubuh yang tidak dirawat dengan baik, atau dibawa oleh bertambahnya usia. Kebahagiaan fisik memiliki durasi yang sangat terbatas. Sangat singkat sekali.

Kebahagiaan kedua lanjutnya adalah kebahagiaan emosional. Ini masih ada kaitannya dengan fisik tapi bisa lebih dalam lagi. Berkaitan dengan perasaan dan emosi manusia. Kalo suatu saat kita berprestasi di kelas/kantor kemudian ada orang memuji kinerja kita, bahagia rasanya. Atau suatu ketika kita melihat sesungging senyum dari orang lain, kita pun merasa bahagia. Saat prestasi dihargai, kerja keras diapresiasi saat itulah kita merasa bahagia. Begitu pula saat cita-cita kita tercapai, prestasi terukir di saat itu emosi kita merasa bahagia. Kebahagiaan ini kita dapat melalui apresiasi dan prestasi.

Namun lagi-lagi kebahagiaan ini juga tidak bertahan lama. Karena saat kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan, saat itulah secara langsung mood kita berubah menjadi kecewa. Karena seperti kata kevin Spacey saat jadi Mr Simonet di film Pay It Forward, "World is great Dissapointment!", kadang dunia terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Selalu ada perselisihan antara kenyataan dan harapan. Dan itu bisa membuat kita kecewa. Kebahagiaan emosional yang membumbung tinggi bisa hancur berkeping karena kita kecewa.

Namun ada jenis kebahagiaan yang jangka waktunya paling lama diantara kebahagiaan lain yang telah dijelaskan diatas. Kebahagiaan spritual. Kebahagiaan yang dicapai dengan tidak bisa digantungkan pada kepuasaan fisik atau emosi. Tapi lebih ke masalah hati nurani yang paling dalam. Kebahagiaan yang bisa muncul dengan memenuhi panggilan kemanusiaan. Agak sulit menjelaskannya, namun teman saya itu mencontohkan kepuasaan seorang anak yang membantu seorang kakek renta menyebrangi jalan. Contoh lain adalah saat orang yang bahagia karena bisa membuat hidup orang lanin menjadi lebih baik, dengan tanpa mengharap imbalan apapun. Kebahagiaan yang kita dapat dari memberi, mengabdi.

Inilah kebahagiaan yang membuat bu Muslimah dan Pak Harfan di Laskar Pelangi bertahan selama 6 tahun untuk mengajar 10 anak kampong dengan upah seadanya. Atau yang membuat puluhan atau ratusan guru di pedalaman bertahan di tengah keterbatasan. Kebahagiaan yang dirasakan oleh guru-guru ngaji di surau, langgar dan mesjid kecil di pelosok melihat anak didiknya lancar membaca barisan hijaiyyah di halaman quran. Kebahagiaan yang tidak tergantung kepada materi ataupun emosi. Memberi dengan ikhlas, tanpa pamrih.

Kebahagiaan yang didapat dengan cara ini dijamin bertahan lebih lama dibanding kebahagiaan jenis sebelumnya. Karena Memberi seperti kata Bang Iwan Fals "membebaskan hati". Ini juga pesan pak Harfan "Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya". Orang yang mengejar kebahagiaan macam ini adalah mereka yang kaya dengan tanpa perlu memiliki harta yang berlimpah, karena mereka kaya di hati bukan di benda. Kaya dengan memberi. Memberi apapun! Tentunya dengan ikhlas dan tanpa pamrih.

Ajaran ini pula yang masih terngiang di kedua telingaku, wasiat ilmu hidup dari almarhum babeh Miskun, tentang pentingnya ikhlas dalam segala hal. yang masih teringat adalah ayat dalam surat albayyinah "wama umiru illa liyabudullah mukhlisin lahu ddin hunafaa" dst. Bahwa ajaran agama sebetulnya ada dalam mengerjakan perintah dengan ikhlas dan itu sesuai dengan fitrah manusia yang hanif, condong pada kebaikan.

Maka dari sekarang mulailah memberi kalo mau bahagia. Memberi waktu, harta, jiwa kalo perlu, tenaga, maaf, cinta, ilmu, dan apapun. Beri dan lupakan, dan lihat apa yang akan terja

Readmore »»

Thursday, April 30, 2009

About Me (again)

Iseng aja jawab yang ngetag...

Okay, here’s the rule : Use Google Image to search the answers to the questions below. Then you must choose a picture in the first page of results, and post it as your answer. After that tag 7 people.

-the age of next birthday-


yang muncul fotonya mbah theodore roosevelt, presiden amerika serikat yang ke-26 dan juga masih saudara sama presiden amerika yang ke-32. Franklin Roosevelt, mbah teddy ini adalah presiden termuda AS yaitu berumur 42 tahun dan menjabat dua kali masa jabatan. entah apa hubungannya dengan hari ultahku, paling nggak kalo mo GR mudah-mudahan aku bisa jadi pemimpin besar kayak mbah teddy ini hehehe...... amin



-place i'd like to travel-


air terjun Niagara di AS kayaknya asyik tuh



menara Eiffel juga menarik, gambar yang menginspirasi si ikal /lintang untuk mengejar cita-cita.... wow keliling dunia...

-favorite place(s)-



sawah....wah wah... mantap ijo, segar dan sehat, tenang

-favorite food(s)-



sambel goreng ati..... muantaaaab

-favorite thing(s)-



the thing i take everywhere, my second room... portable room...

-nickname i had-



weka, wk karena dulu ada dua deni di pondokku



Uden... panggilan kesayangan nenekku almarhum

-a favorite color-



blue ocean..... blu lah pokoknamah

-college major-


-hobby-



main bola sama futsal



berenang kalo sempet...

-a bad habit-



-my wish list-





punya stasiun TV



keluarga mawaddah sakinah wa rahmah

Selanjutnya aku tag ...... selamat "berrelaksasi" otak dan jari-jari! :P



Readmore »»

Pemilu 2009

Satu sesi pesta demokrasi Negara kita telah usai pada 9 April yang lalu. Pemilu legislative ketiga di era reformasi telah dilaksanakan dengan berbagai kekurangan. 40 persen warga Negara yang memiliki hak pilih tidak memberikan hak pilihnya (sekitar 60juta). 30 % diantara mereka tidak memilih bukan karena tidak mau memilih, namun karena tidak bisa memilih. Puluhan juta penduduk tidak bisa menemunkan nama mereka dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang ada dalam setiap TPS.


Hal ini sungguh disayangkan oleh berbagai pihak. Bahkan pengamat mengatakan bahwa pemilu kali ini adalah pemilu paling buruk setelah era reformasi. Karena substansi pemilu adalah mengakomodir kehendak rakyat dengan mempersilahkan mereka memilih orang yang akan mewakili dan memperjuangkan aspirasi mereka di parlemen dan memilih presiden dan wakil prresiden. Sementara sekarang sebagian dari mereka tidak bisa menunaikan hak mereka tidak melakukan itu karena masalah teknis.
Namun yang lebih penting dari itu adalah 30 % dari mereka (sekitar 20%) adalah pemilih pemula. Pemilih pemula adalah pemilih yang masih berusia 17 – 22 tahun atau mereka yang baru melakukan pemilihan umum pertama kalinya. Yang penting untuk dibicarakan adalah apa sebetulnya pelajaran politik yang didapatkan oleh para pemilih pemula ini dari pileg 2009, 9 April yang lalu?

Pragmatisme yang semakkin massif
Pemilu 2009 tidak memberikan politik yang baik bagi masayarakat. Partai politik sebagai organisasi politik yang seharusnya memberikan pendidikan politik kepada rakyat sama sekali tidak memberikan pencerahan kepada rakyat. Parpol membiarkan masyarakat terombang-ambing dalam kebingungan dalam pemilihan legislative yang lalu. Pemilih hanya diposisikan untuk sekedar memilih tanpa informasi yang cukup untuk membuat pilihan yang rasional.
Inipun terjadi pada pemilih pemula. Pemilih pemula yang terkenal dengan potensi kritisnya pun tidak memndapatkan hak politiknya untuk mengetahui informasi ini dengan baik. Memang sosialisasi yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu yang lalu memang jauh dari maksimal. Yang lebih parah adalah pemilih pemula disuguhkan dengan pertunjukan politik oligarkis yang begitu pragmatis.
Betapa tidak di tengah persaingan antar partai kontestan pemilu dan internal partai antar caleg pragmatisme politik mendapatkan tempatnya yang subur. Money Politics yang seharusnya menjadi musuh bersama bangsa setelah lebih dari sepuluh tahun reformasi ternyata semakin menjadi di pemilu ketiga di era reformasi ini. Berita tentang caleg yang marah setelah pileg karena perolehan suara yang minim adalah bukti nyata proses money politik itu. Kita banyak sekali mendengar caleg yang harus babak belur secara ekonomi untuk melakukan kampanye, bahkan dari berbagai media dinyatakan bahwa untuk melakukan kampanye maksimal minimal seorang caleg merogoh uang sakunya paling tidak 500juta rupiah. Dan itu adalah uang pribadi. Sungguh sangat miris mendengarnya. Coba kita bayangkan berapa local bangunan sekolah yang bisa dibangun dengan uang sgitu? Atau berapa judul buku yang bisa dibagi dengan uang 500juta? Dan bayangkan lagi jika uang sebesar itu dikeluarkan oleh para caleg yang saat ini berjumlah 1,5 juta orang? Buanyaaak sekali.
Belum lagi penomena serangan fajar dan uang saku memilihi yang terjadi di hari pencoblosan, perang amplop, jual beli suara di kecamatan atau di kabupaten. Betapa besar dan banyaknya uang yang dikeluarkan untuk hal ini.
Ini saya melihat terjadi karena lemahnya pendidikan politik di Negara kita. Cara pandang rakyat terhadap elit politik pun masih sangat pragmatis. Jika kita tanya rakyat kebanyakan maka paling tidak masih banyak diantara mereka yang menganggap para elit politik ataupun legislator sebagai mesin ATM. Sehingga apa yang harus dilakukan oleh legislator adalah memberikan bantuan finansial bagi konstituennya. Maka yakinlah jika fenomena caleg stress yang selama ini diberitakan di media tidak hanya akan terjadi pada mereka yang tidak terpilih menjadi anggota dewan yang ‘mudah-mudahan terhormat’ tapi juga mereka yang terpilih dan tidak siap menjadi wakil rakyat. Karena serta mereka setelah mereka duduk di kursi panas, ratusan bahkan mungkin ribuan proposal akan segera dating menghampiri meja untuk meminta bantuan.
Padahal tugas utama seorang legislator adalah merumuskan kebijakan dalam bentuk UU atau perda, melakukan penganggaran, dan mengontrol kinerja eksekutif. Inilah pemahaman yang tidak sampai kepada masyarakat. Inilah penomena yang dihadapi oleh para pemilih pemula di negeri kita. Entah berapa tahun lagi kita akan melihat masyarakat yang menghukum calon yang menggunakan dana kampanye pribadi. Seperti yang terjadi pada Hillary Clinton di Amerika (Pamor Hillary turun setelah ketahuan menggunakan uang pribadi untuk kampanye). Hmmm kayaknya masih lama hehehe

Pemilih Pemula Tidak menjadi Fokus Partai Politik
Jumlah pemilih pemula adalah 30% dari total pemilih yang ada di pemilu 2009. Ini tentu merupakan jumlah yang sangat besar dan menggiurkan dari segi angka. Namun parpol nampaknya belum menjadikan pemilih pemula sebagai target utama bagi kampanye mereka. Meskipun berbagai parpol mendirikan organisasi sayap khusus untuk pemilih pemula, namun perhatian parpol terhadap pendidikan politik mereka memang masih kurang. Ini sebetulnya peluang yang harus dimanfaatkan oleh elemen sipil society untuk membrikan pendidikan politik bagi rakyat sehingga pemilih memiliki bargaining position dihadapan caleg, parpol atau capres/cawapres.
Jika pemahaman politik masyarakat sudah meningkat, maka mereka akan menjadi pemilih yang lebih kritis dan memiliki sikap terhadap parpol. Seperti yang terjadi di Venezuela, pemahaman rakyat terhadap UU membuat mereka labih kritis dan hak dan kewajiban warga Negara. Bahwa voter (pemilih) kedudukannya lebih tinggi daripada siapapun yang dipilih.
Maka Pendidikan Politik/pendidikan KEwargaan/Civic Education juga menjadi sangat penting untuk rakyat kita terutama pemilih pemula.

Readmore »»